Saat Tuhan Hadir di Kala Kemampuan Tak Lagi Cukup

Manusia akan selalu sibuk dengan pikirannya dan berusaha atas kemampuannya. Untuk menjalani kehidupan, manusia mengandalkan berbagai sumber daya yang ia miliki, baik berupa pikiran, tenaga, pengalaman, maupun kemampuan lainnya. Dari berbagai kemampuan tersebut, manusia kemudian berusaha memahami keadaan, menyusun rencana, dan menentukan langkah untuk mencapai apa yang diinginkannya. Namun, ketika seseorang merasa memiliki kelebihan tertentu, tidak jarang kelebihan tersebut membuatnya bertindak di luar batas. Dari sinilah, perlahan kesombongan mulai muncul.

Menyangkut usaha, manusia dibekali pikiran untuk merencanakan sesuatu, baik yang sederhana hingga yang lebih kompleks. Sejauh mana hasil yang dicapai akan sangat tergantung pada bagaimana ia memanfaatkan pikirannya. Namun, pikiran tidak akan membuahkan hasil jika tidak dibarengi dengan usaha. Sebaliknya, usaha pun tidak selalu menghasilkan sesuatu sesuai dengan keinginan. Ada kalanya seseorang telah merencanakan dan berusaha sebaik mungkin, tetapi hasil yang diperoleh justru berbeda dari yang diharapkan. Bahkan, tidak jarang seseorang terlempar jauh dari tujuan yang selama ini ia upayakan.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia selalu berbeda-beda. Perubahan dalam kehidupan adalah hal mutlak yang akan terus terjadi mengiringi jalannya waktu. Pengaruh lingkungan, pengalaman, kesempatan, dan berbagai keadaan turut membentuk kemampuan manusia. Begitulah alur hidup, ada yang lemah dan ada yang kuat, ada yang pandai dan ada yang kurang pandai, ada yang kaya dan ada yang miskin. Pada akhirnya, kita menyadari bahwa manusia memang bermacam-macam. Adanya kelebihan juga selalu diiringi oleh kekurangan. Dengan kata lain, manusia tidak ada yang sempurna.

Namun, di tengah berbagai perbedaan dan kemampuan yang dimilikinya, manusia terkadang lupa bahwa dirinya memiliki batas. Ketika merasa hebat, ia seolah berdiri di atas segalanya, bahkan beranggapan mampu menembus segala hal karena terlalu mengandalkan kemampuan yang ada pada dirinya. Seseorang yang memiliki kelebihan dalam berpikir, misalnya, dapat beranggapan bahwa ia mampu melakukan apa pun dengan kemampuan tersebut tanpa adanya campur tangan eksternal. Ia merasa segala sesuatu dapat dijelaskan melalui pikiran dan hukum sebab-akibat yang bekerja secara alamiah. Dalam pandangan tertentu, keyakinan semacam ini bahkan dapat membawa seseorang pada anggapan bahwa Tuhan tidak diperlukan dalam setiap langkah kehidupan, bahkan sampai pada penolakan terhadap keberadaan-Nya (ateisme).

Pada kondisi lain, seseorang yang memiliki kekuatan fisik dapat mengerjakan banyak hal dengan penuh keyakinan terhadap dirinya sendiri. Ia merasa bahwa keberhasilan yang diperolehnya benar-benar merupakan hasil dari kemampuan dan usaha yang dilakukannya. Pandangan semacam ini tentu memiliki penjelasan yang dapat dipahami. Manusia memang membutuhkan pikiran untuk menjalani kehidupan, dan berbagai peristiwa di alam dapat dijelaskan melalui hubungan sebab-akibat yang bekerja secara alamiah. Namun, persoalan mengenai sejauh mana pikiran manusia mampu menjelaskan seluruh realitas dan apakah segala sesuatu cukup dijelaskan secara mekanis merupakan kajian yang amat mendalam. Hal ini membutuhkan perenungan khusus. Karena itu, kontemplasi menjadi penting.

Alfred Binet dalam bukunya The Mind and The Brain menilai bahwa pikiran dan otak memiliki hubungan erat. Otak bertindak sebagai organ fisik yang menunjang pikiran untuk berfungsi. Pikiran muncul tidak terlepas dari materi atau organ fisik itu sendiri. Meskipun sebenarnya ia menolak pikiran berjalan secara mekanis berdasarkan anatomi tubuh dan bersifat materialis, tidak dapat dipungkiri bahwa peran fisik tetap ada dan bersifat materil. Di titik ini, kita mulai menganalisa pula bahwa dari sekian banyak keterangan tentang kesehatan, organ tubuh manusia memiliki keterkaitan satu sama lain dan mempunyai batas umur tertentu. Jika organ tubuh memiliki batas, maka kemampuan manusia pun memiliki batas. Manusia tidak abadi.

Di sinilah kita mulai memahami mengapa keterbatasan itu ada, sementara manusia adalah makhluk yang memiliki harapan. Manusia dapat berpikir, merencanakan, dan berusaha, tetapi ia tidak pernah benar-benar mampu mengendalikan seluruh keadaan yang akan dihadapinya. Ada hal-hal yang berada dalam jangkauan usaha manusia, tetapi ada pula keadaan yang berada di luar kemampuan dan kendalinya.

Andaikata fisik Anda mulai kurang berfungsi dan mulai lemah, itu manusiawi. Ketika menghadapi musibah, misalnya dirampok, Anda diikat, keluarga disiksa di depan mata, saat itu bisa saja Anda tidak mampu berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri dan keluarga. Tidak ada seorang pun yang dapat membantu. Pada keadaan seperti itu, kemampuan manusia seolah telah sampai pada batasnya. Namun, menariknya, ketika kemampuan untuk berbuat hampir tidak lagi tersedia, harapan hidup masih tetap ada.

Di situlah manusia mulai berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kemampuan dirinya. Ketika usaha telah dilakukan dan kemampuan telah mencapai batas, manusia masih berharap adanya jalan keluar, pertolongan, bahkan keajaiban. Harapan tersebut mengarah pada sesuatu yang berada di luar kemampuan fisik dan pikiran manusia, yaitu sesuatu yang bersifat metafisik. Pada titik inilah manusia mulai menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya.

Dengan demikian, manusia bertuhan secara logika dapat diterima sebagai sebuah kemungkinan yang layak untuk direnungkan. Bukan berarti manusia harus meninggalkan pikiran, usaha, atau hukum sebab-akibat untuk percaya kepada Tuhan. Justru manusia tetap menggunakan pikirannya untuk memahami kehidupan dan menggunakan kemampuannya untuk berusaha. Namun, pada saat yang sama, manusia menyadari bahwa pikiran dan usaha tersebut memiliki batas.

Karena itu, tidak berlebihan apabila manusia tidak secara tunggal mengandalkan kemampuan dirinya. Ia berusaha dengan kemampuan yang dimiliki dan berharap melalui doa. Usaha merupakan bentuk ikhtiar manusia, sedangkan doa merupakan pengakuan bahwa di balik kemampuan yang dimiliki, terdapat keterbatasan yang tidak dapat sepenuhnya ia kendalikan. Pada akhirnya, sekeras apa pun usaha kita dalam menghadapi tantangan dan rintangan, kita kembali pada satu kesadaran bahwa manusia berusaha, tetapi Tuhanlah tempat manusia menggantungkan harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *