Janji yang Belum Selesai

Sejak kecil memang tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Hanya taunya ingin jadi tentara atau polisi. Sebagian besar teman-teman yang laki punya cerita yang sama, hanya ingin terlihat gentleman menjadi tentara atau polisi yang bisa memegang senjata. Mindset ini tidak jauh dari kebiasaan kita mendengar cerita di kampung bahwa tentara dan polisi atau abdi negara yang dielu-elukan. Secara tidak langsung, perspektif masyarakat demikian menganggap kesuksesan diukur dari apakah dia menjadi ASN atau tidak. Mungkin akibat pengaruh ini, cita-cita saya seperti demikian. Namun, seiring berjalan waktu, cita-cita selalu berubah.

Setelah tamat di sekolah MAN Kandai II Dompu, impian terbesar yang ingin diraih adalah lulus Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN). Pikirannya memang berangkat dari materil, gaji tinggi pasca menyelesaikan studi di tempat tersebut membuat saya dan seorang teman tergiur dan tergoda. Anggapan akan cepat kaya itu muncul hingga keluarlah sebuah janji.

“Kalo saya lulus dan bisa dapat gaji besar, saya akan bangun pesantren,” ungkap saya.

Janji itu sebenarnya bukan mantra kepada kawan-kawan lain agar terlihat punya misi baik. Sebenarnya itu muncul dari lubuk hati paling dalam setelah mendengar banyak kajian atau diskusi bersama kawan-kawan akan penting dan mulianya menuntut ilmu. Doktrin itu meluluhlantakkan cara berpikir saya yang dahulunya hanya ingin terlihat gagah dengan memegang senjata dan sekadar mendapat gaji. Sehingga jika memiliki kelebihan finansial, kita perlu investasi kebaikan melalui membangun sekolah.

Berencana memang mudah, kenyataan terjadi bisa jauh lebih rumit dan pahit. Harapan untuk bisa masuk STAN hanya mimpi akibat nilai rata-rata ujian yang tidak memenuhi persyaratan untuk pendaftaran. Memang hanya segitu kemampuan kami, namun tidak menyurutkan niat untuk lanjut studi. Meski keputusan saya sendiri untuk bekerja dahulu.

Satu tahun menghabiskan waktu untuk merantau dan bekerja selepas lulus SMA. Akhirnya kembali berproses kuliah. Memilih jurusan saat masuk perguruan tinggi terkadang serba bimbang. Dulu saya ingin mengambil jurusan Bahasa Inggris, hanya karena di kampus tempat saya mendaftar jurusan tersebut berbasis keguruan, akhirnya batal memilihnya. Sekali lagi, cita-cita saya bukan jadi guru.

Penerimaan sertifikat sebagai pemateri di sebuah sekolah pengkaderan organisasi bernama IMM

Kuliah memang sebuah ekspedisi yang menarik dalam mengumpulkan ilmu dengan cara formal ataupun tidak, baik di dalam kelas maupun di luar. Bertemu dengan satu kelompok kecil yang konsen dalam diskusi tematik dan terstruktur kurikulumnya. Doktrin pertamanya tentang ilmu, saya merasa ini seperti kejadian terulang beberapa tahun silam. Perbedaannya adalah tingkatan penyampaian materi dan cara kita menangkapnya sudah beberapa langkah di tingkat atas. Ya, betul saja, sebagai kaum intelektual tidak hanya menelan doktrin, butuh kajian secara ilmiah dan perlu dipertanyakan secara logis.

Keseluruhan pengalaman semacam diskusi, mengikuti seminar, kajian, dan lain-lain hanya semakin memperkuat niat ingin punya sekolah. Sayangnya, latar belakang saya bukan dari Fakultas Keguruan dan Pendidikan. Banyak dinamika dalam dunia pendidikan yang tidak seinstan yang kita bayangkan. Ini bicara secara ideal dengan tujuan pendidikan terarah yang tidak semata money oriented. Namun sama saja, membangun sekolah butuh modal. Urusan manajemen dan operasionalnya serahkan pada ahli di bidangnya.

Persyaratan utama itu rupanya hingga sekarang belum bisa terpenuhi. Secara finansial belum bisa mewujudkan niat sejak 11 tahun lalu. Apalagi mobilitas kegiatan yang tidak bersentuhan langsung soal pendidikan terkadang membuat kita lupa. Saya meyakini suatu saat akan terwujud selama niat itu mengakar kuat.

Membangun sekolah saat sekarang bukan suatu hal yang realistis. Bahkan masih sangat jauh. Esensi dari hadirnya sekolah ialah transfer knowledge. Jika mengisi materi di berbagai organisasi atau kelompok tertentu merupakan bagian dari sharing dan transfer knowledge, maka saya sudah menjalani misi bernilai.

Apa pesan seorang guru dulu?

“Ajarkan ilmu yang kalian miliki. Jangan sampai itu akan dipertanyakan kelak akibat tak kau amalkan dan bagikan.”

Ini mengandung pesan amat dalam. Bisa berbagi dengan siapa pun ternyata kita punya nilai. Tuhan belum memberikan hal yang besar mungkin karena kita belum menuntaskan bagian terkecil yang tidak dilakukan. Apakah sekarang masih tidak ingin jadi guru? Masih tetap tidak, itu bukan bidang saya. Hal demikian justru akan menjadikan sekolah tidak profesional. Jika pada masa mendatang punya sekolah, kami akan menghadirkan guru yang betul-betul kompeten sesuai kebutuhan tanpa mengutamakan kedekatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *