Hampir satu bulan menghabiskan waktu di ibu kota provinsi (Mataram) pada Maret 2025, rupanya awal untuk melangkah lebih panjang lagi. Itulah ikhtiar saya dalam proses seleksi menjadi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Setelah melewati berbagai tes mulai dari psikologi, kesehatan, Mental Ideologi dan Parade, hari lebaran kami diwarnai suasana harap-harap cemas lantaran menunggu pengumuman kelulusan dari tes tersebut. Meski beberapa hari sebelumnya, duka menyelimuti kepergian seorang sahabat, kabar baik pun ikut berhembus bahwa saya dinyatakan LULUS sebagai Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Batch 3 yang akan diberangkatkan ke tempat pendidikan selama 3 bulan. Tak butuh waktu lama, pasca pengumuman itu dikeluarkan, kami segera mungkin untuk melakukan persiapan keberangkatan dan titik kumpul berada di Bandara Internasional Lombok.
Rasa bangga dan percaya diri mendengar kabar baik itu tentu muncul. Sehingga semangat juga tak main-main, sebab dari sekitar 800 lebih manusia yang dikumpulkan adalah calon KA SPPG yang akan mengabdi untuk bangsa, mewujudkan Makan Gizi Gratis (MBG) program strategis nasional dari bapak presiden Prabowo Subianto. Entah, itu rasa yang berlebihan, atau juga sudah sewajarnya karena ini semua peluang. Tidak muluk-muluk, tentu ini lapangan pekerjaan yang bisa menjadi sumber penghasilan untuk menjalani kehidupan.

Apapun perkerjaannya, percaya diri tidak cukup. Kami dituntut punya skill, bisa beradaptasi di lingkungan kerja dan apapun itu sesuai tujuan tempat kerja. Bukan tanpa alasan, akhirnya pendidikan semacam yang saya lakukan akhirnya juga dilakukan oleh seluruh anak SPPI yang baru lulus di berbagai lembaga pendidikan. Saya sendiri mendapat lokasi pendidikan di Surabaya, emang sesuai harapan, tapi kepikir juga enaknya di Bali karena pada tahun 2014 saya pernah mengijak kaki di Bali sebagai pemburu rupiah. Tapi tak apalah, akhirnya bener-bener dapat di Kodikmar (Komando Pendidikan Marinir), yaps dapurnya marinir, pasukan khusus Angkatan Laut.
Sebagai calon Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, rasa memang terdengar pas dan cocok berada di dapurnya Marinir. Seolah kata “dapur” melekat kuat, dalam proses pemenuhan gizi nasional akan banyak dapur yang akan beroperasi dan itu yang akan di handle oleh KA SPPG. Namun sesungguuhnya ucapan “Dapur Marinir” dimaksudkan bahwa lembaga pendidikan tersebut adalah ibu kandungnya marinir (istilah pelatih). Dari ribuan pasukan marinir yang dicetak berbagai batalyon, Kodikmar adalah tempat mereka dilatih secara khusus. Barangkali ada pasukan Marinir yang tidak mengetahui Kodikmar Surabaya, hampir bisa dipastikan ia bukan dari satuan tersebut.
Pengalaman menjalani Pendidikan Dasar Militer dan Manajerial di KODIKMAR bisa disebut sebagai hal menarik. Sangat dirindukan tapi tidak ingin diulangi. Saya kira hampir semua orang menjalani semacam pendidikan atau pengkaderan akan merasakan demikian. Sebab aktivitas didalamnya begigu padat, tidak waktu yang terbuang sia-sia, berbagai pelajaran disuguhkan demi membentuk peserta didik.

Perlu diakui, sekeras apapun pendapat orang tentang didikan militer, justru hal demikian melatih untuk meningkatkan kedisiplinan. Banyak diantara kita yang menyepelekan hal-hal kecil, seperti halnya soal kedisiplinan, padahal perkara besar tidak akan bisa jalan jika komponen-komponen kecilnya tidak berfungsi dengan baik. Sekali lagi, rasa sakit yang mungkin pernah dialami oleh siapapun dalam menjalani pendidikan, bagian dari upaya untuk menyadarkan kita untuk bisa menjadi lebih baik. Kalo kata pelatih Letda. Mar. Widarto, “Agar kalian menjadi lebih baeeeeeeek” (Suara dengan logat khasnya).
Sikap dan perilaku sangat diutamakan, mengingat kepada Tuhan yang Maha Esa tidak pernah putus dalam nasehat pelatih. Sebab, kematian dalam militer hanya berjarak sejengkal, pangkat apapun kita, yang paling tinggi yaitu sang pencipta dan yang mengambil kembali nyawa manusia. Sehingga nasehat-nasehat itu terus ditekankan, menjadi pribadi integritas adalah impian para pelatih. Mantra suci yang selalu melekat tatkala pelatih berkata, “Kami pelatih tidak tau kalian akan jadi apa, siapa tau ada yang jadi Bupati, Gubernur atau bahkan Presiden. Kami hanya bisa nonton di TV dan bangga bahwa kami pernah mendidik kalian. Pesan saya jadilah pribadi yang baik, jaga sikap dan perilaku kalian sebab kalian adalah calon pemimpin yang akan membawa misi besar presiden dalam program MBG. Dan kami akan kecewa jika alumni KODIKMAR ada yang pakai jaket orange (Tahanan KPK), kami sangat kecewa dan tidak rela”
Kami ditempa benar-benar untuk memiliki jiwa dan mental yang kuat dan digodok habis menjadi prajurit yang siap sedia menghadapi segala hal yang dapat membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Komponen Cadangan), menguatkan rasa nasionalisme, patriotisme dan siap menjalankan program MBG. Pada saat itu, hati selalu bergumam dengan penuh pertanyaan, untuk apa kami berada dalam pendidikan militer seperti ini?. Sejenak berfikir, apa alasan yang relevan antara pendidikan militer dengan menjadi kepala dapur, sebenarnya yang ditekankan adalah kekuatan mental dan punya ketangguhan hati dalam menghadapi semua rintangan. Tegas menjalankan aturan, berani mengambil keputusan, tidak pernah digoyah dipengaruhi oleh siapapun yang berupaya merusak kita dan negara. Semua itu memang harus ditanamkan sejak awal sebelum bekerja, ditanam dalam otak bawah sadar kita.

Soal nyaman dan tidaknya, yakinlah semua orang tidak pernah menginginkan suatu penderitaan, atau sebagian menganggapnya sebagai tantangan. Apapun itu, metode yang sejak dari dulu telah teruji untuk mendoktrin orang kuncinya ada dua, pertama atur pikirannya, dan atur emosionalnya. Hal demikian sudah biasa, meski pengalaman organisasi sejak kuliah dulu, tidak ada sedikit pun dalam setiap pendidikan organisasi yang kami lalui berbaur militer. Bahkan rasa ketidaknyamanan dengan metode militer itu menancap kuat lantaran menganggap bahwa dalam sistem kepemimpianan militer yang serba komando dan selalu diidentikan dengan totaliter. Menyimpulkan tanpa melihat banyak sisi memang kurang baik, apalagi memutuskan sesuatu hal tanpa melihat bukti adalah kesalahan fatal. Sejak itu perenungan itu dimulai. Belakangan terakhir, saya mengingat pada organisasi yang dahulunya pernah kami pimpin. Lembaga tersebut merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa di bidang pers, metodenya mungkin hampir sama. Buat capek fisik dan mentalnya, baru kita tanam soal pengetahuan dan doktrin organisasi. Jadi, kami menikmati hal seperti ini dan segala pembelajaran di semua bidang dengan penuh bahagia.