Saya tidak tahu apakah cerita ini begitu penting atau tidak. Namun, sepanjang perjalanan bersama Ma’ruf sejak di Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) hingga tamat, banyak momen berkesan yang tersisa.
Pada tahun 2016, saat masih menjadi mahasiswa dan menjabat sebagai Ketua BEM Faperta UMMAT, Ma’ruf juga dipercaya sebagai Ketua DPM Faperta UMMAT. Kami berdua direkomendasikan oleh Pikom IMM pada masa kepemimpinan Bang Fazrul. Saat itu, muncul isu besar terkait belum adanya fasilitas perbengkelan bagi mahasiswa Teknik Pertanian. Hal ini menggerakkan hati seluruh mahasiswa Pertanian untuk bersuara, termasuk kami. BEM pun menginisiasi gerakan untuk menekan pihak kampus agar segera merealisasikan aspirasi mahasiswa. Sebagai langkah awal, kami mengundang semua lembaga mahasiswa di Faperta, termasuk Ma’ruf sebagai Ketua DPM, Ketua Permatekta Abdarah, serta Himatekta (yang saat itu vakum).
Rapat konsolidasi diadakan di kos Kurniawan, junior kami. Saya berusaha menyatukan persepsi agar semua pihak bisa bergerak bersama. Ma’ruf saat itu tidak banyak bicara, hanya mendukung ide gerakan tersebut. Namun, saya menangkap ada keraguan dalam dirinya. Ternyata, Ma’ruf adalah orang yang konkret—jika suatu hal sejalan dengan pikirannya, ia tidak banyak bicara dan langsung menggerakkan massa di akar rumput.
Konsep awal gerakan ini adalah audiensi, tetapi jika tidak ada titik temu, demonstrasi menjadi opsi berikutnya. Saya ingat, saat itu bulan puasa, dan kami berjuang dengan peran masing-masing. Setelah peristiwa itu, bengkel pertanian untuk fakultas kami mulai dibangun, meskipun dengan peralatan seadanya. Kini, fasilitas tersebut berkembang jauh lebih baik.
Tahun berikutnya, 2017, Kabul mencalonkan diri sebagai Wapresma UMMAT. Saya menghubungi Ma’ruf, yang saat itu telah menjadi Ketua BEM menggantikan saya.
“Halo, Pak Ketua BEM kawanku, kita harus mencari calon Wakil Ketua BEM dari fakultas kita. Pilihannya Kurniawan dan Kabul. Sepertinya Kurniawan cocok,” kata saya.
Namun, Ma’ruf tetap dengan sikapnya yang khas—tidak banyak bicara. Dengan pemikirannya yang objektif, ia segera mengonsolidasi seluruh anggota untuk memperjuangkan pilihan kami. Seiring dinamika yang berkembang, keputusan akhirnya berbeda. Kabul lebih dipertimbangkan sebagai calon. Meski demikian, Ma’ruf tetap berjuang, meskipun sebelumnya ia sudah berbicara dengan Kurniawan. Saat itulah saya sadar, saya dan Ma’ruf berada dalam satu frekuensi dalam perjuangan organisasi.
Puncak kedekatan dan persahabatan kami terjadi pada tahun 2019. Setelah wisuda, kami mengadu nasib di Mataram dengan mengikuti survei politik di Lombok Utara. Berhari-hari kami bertugas sebagai surveyor dan singgah di rumah Lalu Ardi, teman sekelas saya. Di sana, kami sempat berfoto di depan spanduk bertuliskan PUBG, dengan gambar tengkorak di bawahnya—menandakan tempat itu adalah markas pemain game PUBG. Lucunya, saya yang tidak suka game tetap mencoba ikut bermain, bahkan dengan permainan sederhana seperti game ular.
Waktu berlalu begitu cepat. Ketika pandemi Covid-19 menyebar, kami kembali ke rumah masing-masing. Saya pun sempat menginap di rumah Ma’ruf. Malam itu, kami makan mi instan dan tertawa bersama. Ada satu perkataan yang hingga kini masih saya ingat:
“Nahu dihi ade tio story ngomi ncau, au lucu re.”
Dalam bahasa Bima, ini berarti, “Saya suka lihat story kamu, selalu lucu.”
Tahun terus berganti. Ma’ruf akhirnya bekerja sebagai Quality Control di sebuah perusahaan jagung. Saya juga sempat melamar di perusahaan yang sama, tetapi ditawari posisi di bawah Quality Control. Hati saya berkata lain—saya lebih memilih melanjutkan studi S2 di Institut Pertanian Bogor. Jika saja saya melanjutkan proses wawancara di perusahaan itu, mungkin saya hanya cukup bermain mata dengan pewawancara, yang ternyata adalah kawan Ma’ruf. Saat itu, saya mungkin akan mengunggah story WhatsApp bertuliskan “Jangan tipu-tipu teman sendiri,” hehe…
Momen terakhir kebersamaan kami adalah saat memancing di DAM MILA, Dompu. Imam, Ma’ruf, dan saya seolah berlomba menarik ikan dengan pancingan masing-masing. Tidak ada yang bisa meremehkan hasil tangkapan kami, karena semua mendapatkan hasil yang lumayan. Kami pun bahagia.
Momen lain adalah saat saya bertemu Ma’ruf di taman depan Pendopo Dompu. Saat itu, ia datang bersama rekan-rekan kerjanya. Kami berbincang sejenak, meski tidak lama.
Cerita ini adalah kenangan baik. Terlarut dalam kesedihan tentu tidaklah baik. Namun, kabar kepergianmu yang begitu tiba-tiba sempat membuatku terdiam. Ini adalah realita.
Kita lahir di tanggal yang sama, mungkin tahun kita berbeda, atau justru sama (saya lupa). Namun, takdir telah lebih dulu menjemputmu, kawan. Kita semua pasti akan pulang, tinggal menunggu giliran.
Selamat jalan, Ma’ruf. Semoga Allah mengampuni dosamu dan menerima segala amal ibadahmu.