Mungkin ingatan tentang bencana banjir Hu’u 2021 silam dan kejadian baru-baru ini (7/1/2026) dapat melengkapi histori pengalaman hidup dan pengamatan secara reflektif selama ada di bumi nggahi rawi pahu.
Tidak ada yang menginginkan munculnya bencana. Namun pada momen adanya sebuah fenomena alam seperti banjir, muncul banyak perdebatan yang terkadang tak kunjung usai. Ada dua pertanyaan yang kerapkali di lontarkan, masing-masing memiliki pondasi berfikir yang menguatkan.
Apakah bencana hidrometrologi semacam ini memang pure akibat intensitas hujan yang tinggi sehingga daya serap tanah dan tumbuhan tidak dapat menampung dan menahan laju air hujan, sehingga terakumulasi menjadi luapan air?
Atau kerusakan hutan menjadi faktor paling utama karena tidak ada tumbuhan yang dapat menyerap dalam jumlah banyak air hujan sehingga terjadi banjir seperti banjir bandang?
Wilayah Dompu memang dikelilingi oleh gunung. Membicarakan kerusakan hutan adalah hal wajar, karena kita punya track sejarah bahwa hutan pernah terjaga dan sekarang hutan malah di babat habis.
Sekitar tahun 2010-2014 hutan rindang dan biodiversity masih sangat terjaga. Kesadaran lingkungan pemerintah daerah saat itu sangat tinggi dan kerawanan banjir pun sangat minim.
Semakin hari memasuki tahun 2015-sekarang. Kita seolah berdebat penuh egosentris. Tidak pernah mengakui tindakan kita terhadap alam. Pengalihan hutan yang masif seolah dinaifkan. Tapi juga dilematis, penggunaan lahan tersebut untuk sumber pemasukan petani jagung.
Menurut saya, akui saja dengan rasa dilematis. Artinya pemerintah harus berpikir keras untuk mencari solusi agar rehabilitasi hutan segera dilakukan. Tentunya membuka lapangan pekerjaan baru untuk para petani.
Anomali cuaca akibat perubahan iklim merupakan dampak kerusakan lingkungan secara global. Dunia mengakui itu secara ilmiah. Sebenarnya kita juga ikut menyumbang pada perubahan iklim tersebut.
Bagaimana pun bencana tetaplah bencana, kita turut prihatin terhadap warga yang terdampak. Semoga ini tidak berjalan lama dan segera pulih.
