AI memang telah banyak merubah kebiasaan manusia pada berbagai aspek kehidupan. Dari hal yang paling rumit hingga paling remeh-temeh dan nyaris AI mampu menguasai semua. Di berbagai sektor AI menjadi andalan untuk dapat dipamerkan, misalnya di bidang militer, penggunaan drone pengintai yang dapat mengolah data dengan cepat dan bekerja secara mandiri untuk mengidentifikasi musuh.
Pada bidang kesehatan, seperti di China menghadirkan “dokter robot” untuk mengatasi kekurangan dokter. Kumudian di bidang transportasi, baru-baru ini viral di media sosial bahwa negara tirai bambu memiliki taksi robot alias mobil tanpa pengemudi membawa penumpang sampai tujuan dengan selamat dan persis layaknya ada sopir. Hal itu dibagikan oleh orang-orang Indonesia saat mereka berkunjung ke China.
Masih banyak lagi masuknya AI menerobos berbagai bidang seperti di industri, pertanian, peternakan, pendidikan, pelayanan pemerintahan dan lain-lain. AI benar-benar menjadi bagian yang amat dekat dengan manusia.
Apapun kecanggihan AI, pada dasarnya ia adalah ciptaan manusia. Seluruh rangkaian penyusun dan kebutuhannya adalah hasil proses critical thinking manusia. Baik itu dari infrastruktur, kebutuhan data besar, berbagai penyusun algoritma dalam pengambilan keputusan dan lain-lain hingga pada implementasinya merupakan hasil perjalanan panjang pikiran manusia.
Walaupun manusia sadar, kepintaran AI akan jauh lebih besar dari kepintaran manusia. Pasalnya, cara kerja AI banyak diadopsi dan terinspirasi dari cara kerja sistem tubuh manusia dan beberapa perilaku makhluk hidup lainnya. Ini sebuah pencapaian spektakuler manusia di abad 21.
Kecanggihan AI, apakah bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia?
Sebuah robot terpintar di dunia buatan Hongkong, namanya shopia pernah memberi pernyataan saat datang ke Indonesia pada tahun 2019. Shopia mengatakan bahwa robot jauh lebih pintar dari manusia. Namun, robot tak memiliki hati layaknya manusia sehingga kondisi emosional tidak ada pada robot, manusia memiliki keunggulan dalam hal rasa empati, inspirasi, dan kreativitas.
Apakah soal cinta juga robot tidak punya kemampuam? Tentu saja, robot tidak memiliki komponen itu. Kelebihan manusia selain punya kecerdasan IQ juga memiliki EQ. Jadi robot bukan segalanya dalam kehidupan.
Sama halnya dalam edit foto ini, mamang benar AI sebagai alat dalam proses editing. Namun, ide yang muncul dari perintah/prompt AI datangnya dari manusia. Penilaian estetika nya muncul dari hati dan pikiran sang editor, sehingga memilih objek cafe dengan segala interior dan tata letak seperti itu. Al hasil, foto saya nampak seperti ada pada gambar ini. Pada intinya, foto ini sebagian besar adalah kerja manusia yang dibantu AI.
Jika anda bertanya apakah sang editor melibatkan cinta saat mengedit foto?. Panjang jika kita mengurainya berdasarkan kajian dan analisis tanpa menanyakan langsung editornya.
~Tidur dulu, Slamlekom~
