AL Fian

Sakit Gigi dan Realitas Kehidupan

Bagaimana rasanya sakit gigi? Jawabannya bisa seperti yang dikatakan Irma, anak Dimensi:

“Rasanya super duper, pikiran melayang-layang.”

Kalau boleh saya tambahkan: “Nggak tahu kapan jatuhnya.”

Kehidupan kita penuh dengan sensasi fly kalau sudah sakit gigi. Mau ngomong susah, belajar nggak fokus, tidur miring kanan—nggak nyaman. Balik ke kiri—masih sama aja. Apalagi kalau mau makan, baru kepikiran 0,5 detik saja langsung batal niatnya.

Begitulah nasib orang yang kena sakit gigi. Semangat hidup buyar, rencana-rencana indah hancur. Bahkan sekarang, saya menulis ini sambil menahan nyut-nyutan, sembari berusaha mengingat di mana saya taruh kunci motor tadi malam sepulang dari klinik Catur Warga untuk rontgen gigi.

Tapi ada satu hal yang ingin saya luruskan. Jangan pernah menyamakan sakit hati karena cinta dengan sakit gigi. Banyak orang bilang patah hati itu menyakitkan, bikin ingin menyerah, ada yang sampai mencoba bunuh diri segala.

Aduuuh bro, tolong!

Kamu cuma belum merasakan sakit gigi. Sekali nyut-nyut parah, dunia rasanya mau pecah. Segala hal terasa salah.

Kehilangan kekasih memang menyayat hati, tapi seiring waktu, bisa tergantikan dengan pasangan baru. Rasa sakitnya pun perlahan sembuh. Paling lama, dalam satu bulan sudah bisa move on.

Tapi sakit gigi? Bisa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, tanpa tahu kapan akhirnya.

Antara Gigi, Kakek, dan Dokter Gigi

Sejujurnya, saya takut mencabut gigi. Katanya, kalau sembarangan bisa kena saraf dan malah menambah masalah. Tapi saya juga heran, waktu kecil, kakek saya pernah mengikat benang di gigi saya, lalu ditarik tiba-tiba. Hasilnya? Sakit sebentar, lalu selesai. Kenapa dokter gigi sekarang bikin tegang dengan segala penjelasan rumitnya? Mungkin itu hanya efek keberuntungan saya waktu kecil.

Dilema Gigi Bungsu

Pulang dari dokter gigi, ternyata sudah larut malam. Dokter pun menunda pencabutan gigi. Dan di sinilah saya, terjebak dalam harap-harap cemas.

Bakal sakit nggak ya?
Bakal aman atau malah nambah masalah?
Cepat sembuh atau malah makin parah?

Pikiran seperti ini wajar. Tapi jangan berlebihan. Saya ingat, kita masih punya Tuhan. Artinya, selalu ada catatan takdir dan pertolongan. Tawakal saja.

Yang bikin tambah pusing, ini gigi bungsu. Letaknya miring, nggak bisa dicabut langsung seperti gigi biasa. Kata dokter, “Ini butuh perlakuan khusus.”

Ya sudah, yang penting segera hilang rasa sakitnya. Cuma satu pesan untuk dokter: tolong jangan mahal-mahal ya!

Terima kasih.

Exit mobile version