AL Fian

Jalan Pulang

Pulang adalah hal yang paling diimpikan bagi insan perantau. Bahkan, aktivitas ini sesungguhnya sebuah keniscayaan. Pulang berarti kembali ke tempat asal setelah sebelumnya berada di tempat berbeda untuk sementara waktu. Seperti halnya hidup manusia, dunia ini hanyalah tempat persinggahan dan petualangan sementara. Tidak ada satu makhluk hidup pun di jagat bumi yang kekal; semua akan kembali kepada penciptanya, dan itulah tempat abadi.

Pada 19 Februari 2025, saya bergegas untuk pulang, meski terkesan sedikit tergesa-gesa. Perjalanan menyelesaikan studi S2 telah usai, tantangan baru pun muncul. Untuk bertahan hidup, para lulusan perguruan tinggi berupaya mencari pekerjaan atau menjalani kehidupan dunia dengan cara masing-masing. Dalam konteks ini, saya pun mengalami kebimbangan untuk mengambil langkah—apakah harus pulang atau tetap bertahan di tanah rantau. Pasalnya, di tengah perjuangan di kota seberang lautan, keluarga mengabarkan bahwa ibu sedang sakit. Pikiran saya bekerja semakin keras untuk mengambil keputusan.

Sebagai lelaki, kami adalah calon pemimpin. Sebesar apa pun rasa ragu, kami harus mampu mengambil keputusan beserta konsekuensi yang mengikutinya. Bagi saya, ibu adalah segalanya, ibu adalah mutiara hidupku. Selain kasih sayang yang tak pernah putus, di sanalah letak keberkahan bagi seorang anak.

Untuk apa memiliki pekerjaan megah jika di dalamnya tidak terdapat sesuatu yang berharga? Layaknya bangunan kosong tak bertuan. Begitulah perumpamaan kondisiku sekarang. Ini adalah cara saya menjawab sebuah perkataan sakti, “Kami tidak apa hidup miskin, hidup melarat, asal anak sekolah.” Walaupun jalan yang ditempuh belum membuahkan hasil dan prosesnya kadang semrawut, saya percaya bahwa hidup punya ceritanya masing-masing.


Perang. Rasanya genderang perang mulai ditabuh. Segala kebutuhan berupa senjata, amunisi, dan pasukan telah tersedia. Seni mengelola pertempuran pun menjadi realistis—membangun serangan pada objek yang sebanding dengan sumber daya kita. Namun, apakah ini perang gerilya atau pertempuran di padang pasir?

Mencari pekerjaan di masa sekarang layaknya bertempur dalam perang gerilya. Penguasaan medan tempur dengan lanskap yang bervariasi—darat yang tak rata, pegunungan, dan pepohonan—menjadi kunci. Teka-teki pekerjaan tersembunyi di semak-semak; butuh intelijen untuk memantau sejak awal, dalam arti lain, perlu “orang dalam”. Opsi lain adalah mengambil jalur lain—berkelana di medan berbeda dengan kontur tanah naik turun yang dipenuhi jurang. Bagaimanapun, risiko jauh dari kampung halaman dan keluarga akan menjadi pengorbanan yang harus dihadapi, meskipun berat.

Viralnya #KaburAjaDulu menjadi seruan untuk ke luar negeri, menata karier di negeri orang, atau sekadar mencari penghasilan. Beragam negara menjadi tujuan demi mengumpulkan cuan sebelum kembali ke tanah air—atau bahkan menetap selamanya.

Di samping kursi kereta yang kutumpangi menuju Surabaya, duduk seorang pemuda berperawakan Arab. Hidungnya mancung, kulitnya putih, dan tubuhnya kekar. Rupanya, dia orang Pakistan. Dengan modal bahasa Inggris seadanya, saya bertanya, “Are you come here to spend vacation?” Dia menjawab, “I just meet my brother and visit a company.” Pikiran saya mulai berkelana—rupanya, dia akan bekerja di sebuah perusahaan berbekal informasi dari saudaranya. Sejenak, saya merenungkan tagar viral yang booming seminggu terakhir: orang luar saja datang ke bumi pertiwi untuk berjuang mengumpulkan puing-puing kehidupan, sementara kita justru memilih keluar. Apakah kita kekurangan keterampilan, tidak memiliki koneksi, ataukah manajemen penguasa di negara ini yang tak mampu membuka lapangan pekerjaan? Jawabannya tergantung pada masing-masing individu.


Sebelum menuju stasiun kereta, saya sempat singgah di Jakarta Selatan. Dalam perjalanan, saya menaiki mobil sewaan, dan sang sopir banyak bercerita. Dia berasal dari sebuah pulau di sebelah barat Jawa. Setelah puluhan tahun merantau di Jakarta, kini dia telah berkeluarga dan menetap di sana.

Di tengah perjalanan, dia bercerita penuh kekecewaan terhadap banyaknya pemuka agama yang memiliki banyak istri hanya bermodal status sebagai ustaz. Belakangan, ia juga mulai membanggakan kehebatan dan kesaktiannya. Suaranya lantang, penuh percaya diri, beberapa kali meminta maaf agar tak terkesan sombong, tetapi tetap saja ia menceritakan kehebatannya—mulai dari harta hingga kekuatannya dalam beradu fisik.

Saya mulai mengamati. Mobil yang kami tumpangi tidak mewah. Sang sopir meminta rokok, usianya sudah tua, dan ia hanya bermodal semacam berlian yang dianggap jimat serta tato di lengan kiri. Di luar logika, cerita-ceritanya sepanjang perjalanan terasa tak masuk akal. Bagaimana mungkin benda mati memberi kesaktian dan membantu memperlancar segala urusan? Dalam hati, saya bertanya, “Apakah seperti ini cara ampuh untuk bertahan hidup di kota besar?”

Namun, saya dan adik sepupu sama sekali tidak takut. Menyeberangi lautan berarti separuh badan sudah berada di kuburan—itulah filosofi orang Bima-Dompu. Sikap paling efektif saat itu hanyalah mengangguk dan mengatakan “iya”. Salah bicara atau bertindak, entah bagaimana nasib sang sopir nantinya, karena adik sepupu saya yang notabene berdarah panas mulai diam. Tapi, poinnya bukan di situ. Dalam mencari nafkah, rupanya hidup memang berat hingga orang-orang rela mencari berbagai cara, meskipun tidak semua jalan itu benar.

Exit mobile version