AL Fian

Mengenal Politik dari Dekat

Memaknai politik saat duduk di bangku kelas 4 SD rasanya begitu asyik dan menyenangkan. Barangkali, orang tua dahulu menjalaninya dengan begitu serius, serba tegang, bahkan kadang menumbuhsuburkan hipokrit dalam jiwanya. Sebagian akhirnya tidak mempercayai jiwa yang demikian, tetapi ada pula yang justru merasa canggih dengan segala tipu dayanya. Atau, dalam tafsir lain, hebat juga bisa diartikan sebagai kemampuan menjatuhkan lawan dengan cara-cara di luar kebiasaan rasional—seperti menggunakan praktik supranatural (main dukun).

Menyenangkan bagi kami, anak-anak kecil, tatkala pesta demokrasi diwarnai kemeriahan kampanye, konvoi, dan berbagai perayaan lainnya. Keributan yang seharusnya tak disajikan kepada kami tetap menjadi bagian dari politik praktis, yang justru kami anggap menarik karena menghadirkan keramaian.

Orang bisa memiliki pandangan berbeda terhadap politik, bergantung pada pengalaman yang mereka lihat dan rasakan. Bagi saya, mengingat kembali Pemilihan Kepala Desa di masa awal ketika orang tua ikut mencalonkan diri sebagai kepala desa, memberikan pengalaman tersendiri dalam memahami politik.

Kabut asap rokok saat itu seperti kabut tebal dari cerobong perusahaan pembangkit listrik tenaga batu bara. Meskipun tetangga mungkin tak sampai mengalami dampaknya seperti polusi PLTU, setidaknya dari kejauhan rumah kami tampak diselimuti asap rokok. Itu menandakan betapa padatnya pengunjung yang membludak. Sebagai anak SD, saya justru menikmati suasana itu.

Sesekali, di balik keramaian itu, saya mendengar berbagai percakapan para tamu. Ada yang berbicara serius, memberikan komitmen, menghitung-hitung prediksi suara, dan sebagainya. Dari situ, saya mulai belajar bahwa pengkhianatan dalam politik itu biasa, tidak semua orang menjual harga dirinya tanpa prinsip, dan menjatuhkan nama baik lawan juga bukan hal yang aneh.

Diwaktu yang terasa campur baur antara cemas dan senang. Saya juga ikut nimbrung disetiap tongkrongan orang tua yang membicarakan politik. Seolah-olah sebagai intelejen, mengumpulkan informasi hasil bincang-bincang orang. Tidak memberi kesimpulan tapi info sampai ke telinga ayah saya. Cemasnya, ketika orang tua jatuh sakit akibat begadang dan kecapean, senangnya selalu ramai. Itulah warna-warni kehidupan politik desa. 

Tidak banyak yang menyadari anak seumuran kelas 4 SD sudah bisa menambang informasi arah dukungan orang yang diamati akan kemana. Namun, tetap saja obrolan politik di level itu tidak bisa diambil 100% omongannya. Ada yang seolah mendukung dan pura-pura kontra. Apapun, saya tetaplah bocah kecil yang tidak paham sama sekali soal strategi dan taktis. 

Kalaupun saat itu saya sudah sedewasa ini, mungkin saja kemenangan bukan lagi hal mustahil, dalam pertempuran yang melibatkan saya sebagai analis data, tidak pernah kalah. Bahkan untuk meyakinkan menang, orang harus bertanya, “Gimana hasil hitungan kamu, menang atau kalah?”. Kunci dari menyusun strategi adalah memahami data, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Baru rumusan atau skenario-skenario itu muncul.

Exit mobile version