AL Fian

Mencoba Biasa Menulis

Ada kebiasaan mahal yang jarang mampu dijalankan sebagian orang, yaitu membaca dan menulis—dua aktivitas yang saling berkaitan dan menguatkan. Bagi seorang penulis, membaca adalah cara untuk memperkuat pikiran dan imajinasi dalam menulis, yang juga dibantu oleh pengamatan langsung secara objektif. Kebiasaan membaca akan mempermudah dalam menelurkan kata-kata dalam setiap kalimat yang ditulis. Kita tahu bahwa setiap buku yang dibaca memiliki ciri khas, gaya penulisan, dan bahasa masing-masing. Oleh karena itu, seorang pembaca yang tekun akan mampu memahami gaya dan karakteristik tulisan saat membaca sebuah karya. Titik utama tetap terletak pada kegiatan menulis; seberapa pun tinggi imajinasi yang dibangun, membaca tetap menjadi faktor yang memengaruhi gaya tulisan seseorang.

Tidak ada manusia yang terlahir dengan pemahaman dan ideologi yang sudah terbentuk. Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa setiap anak pada dasarnya suci, dan yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nasrani adalah orang tuanya. Ini menggambarkan bahwa akal manusia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal—baik itu orang lain, lingkungan, maupun kebiasaan yang dibangun sejak kecil. Pemahaman seseorang dapat dilihat dari kebiasaannya membaca, dengan siapa ia bergaul, serta lingkungan tempat ia tumbuh. Tidak heran jika gaya tulisan seseorang sering kali mencerminkan buku dan bacaan yang sering ia konsumsi.

Inilah alasan mengapa saya ingin kembali membiasakan diri untuk menulis, meskipun hanya dalam bentuk diary. Tujuannya adalah untuk mengarsipkan pikiran dan merekam pengalaman. Kesannya memang agak berlebihan, tetapi saya menyadari bahwa ini bukan tulisan yang menguras tenaga untuk berpikir seperti halnya karya ilmiah. Namun, saya cukup senang dengan tulisan-tulisan ringan semacam ini—santai, tidak membutuhkan banyak tenaga, cukup mengingat, lalu memainkan jari di depan laptop. Meski demikian, ada pesan moral yang tetap bisa disampaikan di dalamnya.

Banyak junior yang sudah menulis buku, dan beberapa teman juga sering bertanya seolah menagih, “Kapan akan menerbitkan buku?” Entahlah. Terkadang, naskah-naskah yang tersimpan di perangkat hilang begitu saja karena tidak diarsipkan dengan baik. Jujur saja, saya belum siap untuk seserius itu—kecuali ada yang mengajak untuk sehidup semati. Jangan salah paham! Maksudnya, menulis buku terasa sangat serius, meskipun ada hal yang lebih serius bagi seorang pemuda—yaitu segera menikah.

Dorongan terbesar untuk menulis adalah agar terbiasa melakukannya, agar tulisan bisa dibaca oleh orang lain, dan syukur-syukur jika mereka dapat mengambil manfaat darinya. Ajarkan aku untuk bisa menulis dan menjadikannya kebiasaan dalam hidupku. Taglinenya begitu—mirip seperti “Ku pinang kau dengan Bismillah.”.

Exit mobile version