Konsep rezeki memang sudah diatur. Begitu pula bagi Kang Asep ku menyamarkan namanya, seorang penjaga kuda di sebuah kafe. Ia berprinsip bahwa berhijrah adalah bagian dari perjuangan untuk bertahan hidup. Di usianya yang ke-41, ia berharap bisa menjalani hidup dengan senyum, dan sang buah hati masih bisa merasakan kebahagiaan dari hasil jerih payahnya.
Sejak tahun 2001, ketika masih duduk di bangku SMK, ia sudah merantau ke Bogor, mengikuti jejak orang tua yang lebih dulu mencari penghidupan di perantauan. Tujuannya jelas: mengumpulkan modal untuk membangun rumah. Sang ayah berjualan bakso, sementara sang ibu berjualan jamu. Cerita tentang sekolah dulu memang tak seindah sekarang—yang serba mudah dengan fasilitas dan teknologi yang semakin pesat.
Faktor ekonomi turut memberi warna dalam perjalanannya, terutama saat memasuki dunia perkuliahan. Ia berasal dari keluarga yang hidupnya pas-pasan, meskipun masih satu pulau dengan tanah kelahirannya di Jawa Tengah. Begitulah hidup. Ia hanya berpesan, bahwa mempersiapkan segala hal dalam menyambung hidup, apalagi setelah berkeluarga, adalah hal yang sangat penting.
Tak ada raut wajah mengeluh. Auranya memancarkan sosok seorang ayah yang berpikir dan bekerja keras demi anaknya. Berhijrah memang menjadi langkah yang perlu ia ambil untuk mengadu nasib. Oleh karenanya, selain menjadi buruh bangunan, ia juga bekerja sambilan sebagai penjaga parkir di sebuah kafe.
Respect. Ia bukan tipe orang yang mudah mengeluh. Ia menikmati hidup, bertawakal kepada Tuhan tentang rezekinya, dan berusaha sekuat tenaga karena itu adalah tugasnya. Ini adalah bagian dari pelajaran hidup-sesuatu yang tak semua orang dapatkan di sekolah formal
